http://www.youtube.com/watch?v=aDeRZ4b7v68
Serial NCIS berjudul Dead Man Walking ini nggak sengaja tiga kali gue tonton (pas libur lebaran) dan tiga kalinya gue berkaca-kaca. Sampai gue search siapa nama asli tokoh Lt. Roy yang bikin Ziva jatuh cinta sekejap itu.
Terus nih, gue google semua video yg ngelink dengan film itu.
Bagian akhir kisah itu bikin gue mewek...
Gue sangat tersentuh. A very touching story, sampe gue masukin ke blog ini, hehehe...
Ini adalah episode terbaik di serial NCIS buat gue.
Ziva memang keren. Hot and smart!
Somehow gue ngerasa dia yang terbaik di film itu...
"14 You are the light of the world. A town built on a hill cannot be hidden. 15 Neither do people light a lamp and put it under a bowl. Instead they put it on its stand, and it gives light to everyone in the house. 16 In the same way, let your light shine before others, that they may see your good deeds and glorify your Father in heaven." (Mat.5)
Wednesday, August 31, 2011
Monday, August 22, 2011
Belajar menulis puisi (lagi)
1.
kasih yang mendalam
kasih telah berakar
bagaikan kota yang tinggal puing
tetap bersisa
walau hanya debu
2.
ketika kapal mulai tenggelam
terungkaplah keunggulan palsu Titanic
dan kau melambai
meninggalkan banyak hal pada masa lalu
termasuk dia
perempuan paling cantik di jagat
bagimu
rupanya dia memuakkan dunia
sebagai badut
makhluk tanpa cinta
yang menyenandungkan ayat patriotisme
palsu
terlalu banyak imajinasi
3.
kau merasa
di sini tak seperti rumah sendiri
harapan yang lebih rendah kau pertaruhkan
kisah kepahlawanan tak seindah legenda
ketika kau sadar
cinta menjadi setan jika dipertuhan
kau menolak puisi
dulu kau percaya
cinta melatih otot-otot nurani
seperti perempuan merawat mainan
walau tak berguna
hanya menghabiskan waktu
teringat sebuah gereja kecil
kenangan memalingkan muka
sebuah ladang di pagi hari
mengingatkanmu
bahwa setan tak pernah menepati janji
awal dan akhir yang tak terlupakan
lalu kau meratapi masa lalu
berdoa pagi sekali
menaruh harapan setinggi langit
bagai seorang penyair
merindu bunga
mencoba menikmati udara bebas
di awal musim semi
kau ingin lupa
alam tanpa belas kasih
kesuraman
kau bertanya
arti kemuliaan
misteri
kau memandang dan menahan nafas
keindahan yang luar biasa
waktu demi waktu
beberapa detik
tentang kita
dan kau putuskan
tak ada yang permanen
kebutuhan berubah
dunia menawarkan aneka
warna
ukuran
arti
dan tubuh manusia
berdosa
satu sloki minuman keras
untuk bertahan seumur hidup?
kebutuhan berakhir di dunia
hilang
surut
lepas
lepaskah kau?
lepas dari bahaya?
berserulah tolong
dan terjawab oleh
anggur merah
indra terpuaskan
udara di luar sangat dingin
jika menjelang ajal
aroma sedih tercium
kau teringat kebun kacang
kenangan berganti
kau membandingkan
air dan kehausan
secangkir kopi
segelas bir
aroma kebun kacang
lagi
sebotol anggur
dan semuanya hilang.
kasih yang mendalam
kasih telah berakar
bagaikan kota yang tinggal puing
tetap bersisa
walau hanya debu
2.
ketika kapal mulai tenggelam
terungkaplah keunggulan palsu Titanic
dan kau melambai
meninggalkan banyak hal pada masa lalu
termasuk dia
perempuan paling cantik di jagat
bagimu
rupanya dia memuakkan dunia
sebagai badut
makhluk tanpa cinta
yang menyenandungkan ayat patriotisme
palsu
terlalu banyak imajinasi
3.
kau merasa
di sini tak seperti rumah sendiri
harapan yang lebih rendah kau pertaruhkan
kisah kepahlawanan tak seindah legenda
ketika kau sadar
cinta menjadi setan jika dipertuhan
kau menolak puisi
dulu kau percaya
cinta melatih otot-otot nurani
seperti perempuan merawat mainan
walau tak berguna
hanya menghabiskan waktu
teringat sebuah gereja kecil
kenangan memalingkan muka
sebuah ladang di pagi hari
mengingatkanmu
bahwa setan tak pernah menepati janji
awal dan akhir yang tak terlupakan
lalu kau meratapi masa lalu
berdoa pagi sekali
menaruh harapan setinggi langit
bagai seorang penyair
merindu bunga
mencoba menikmati udara bebas
di awal musim semi
kau ingin lupa
alam tanpa belas kasih
kesuraman
kau bertanya
arti kemuliaan
misteri
kau memandang dan menahan nafas
keindahan yang luar biasa
waktu demi waktu
beberapa detik
tentang kita
dan kau putuskan
tak ada yang permanen
kebutuhan berubah
dunia menawarkan aneka
warna
ukuran
arti
dan tubuh manusia
berdosa
satu sloki minuman keras
untuk bertahan seumur hidup?
kebutuhan berakhir di dunia
hilang
surut
lepas
lepaskah kau?
lepas dari bahaya?
berserulah tolong
dan terjawab oleh
anggur merah
indra terpuaskan
udara di luar sangat dingin
jika menjelang ajal
aroma sedih tercium
kau teringat kebun kacang
kenangan berganti
kau membandingkan
air dan kehausan
secangkir kopi
segelas bir
aroma kebun kacang
lagi
sebotol anggur
dan semuanya hilang.
Sunday, August 14, 2011
Little Keraton Boy
Sunday, July 31, 2011
Breakfast in Yogya


Kota ini selalu mengingatkanku akan dua lagu.
satu lagunya KLA, satu lagi lagu Ebiet.
..di sini aku dilahirkan... di sini aku dibesarkan.. semangatku... keyakinanku pun terbentuk... masihkah debu jalanan mengiringi langkahku... setiap sudutmu menyimpan...derapku...
yogyakarta...
Yogya memang bukan kota kelahiran atau kebesaran gue, tapi nggak tahu, gue punya interest yang tinggi akan kota yang satu ini.
gudeg, becak, candi, istana, batik, mungkin memang bagian dari daya pikatnya.
gue malah terpikir untuk bikin buku dengan judul "Breakfast in Yogya",
well, someday, why not? (:
selama 4 hari minus di sana bulan juni kemarin, belum cukup puas bagi gue untuk explore. well, may be next time, will be there again.
dan mungkin saat itu gue akan bernyanyi... ala KLA,
...pulang ke kotamu...
ada setangkup haruku dalam rindu..
masih seperti dulu..
setiap sudut menyapaku bersahabat..
penuh selaksa makna...
Kejujuran?
Talking ‘bout kejujuran,…
So, kenapa gue suka banget kumpul sama sohib2 dekat gue, salah satunya adalah, karena kalo kita ngumpul, semua cerita bisa terasa jadi kocak dan ada hikmahnya, dan bukan jadi gossip cetek yang hanya ngejelekin pihak lain. Yang tadinya itu kisah sedih dan tragedy pun bisa kita bahasa dengan rasa humor yang kacau-beliau, dan harusnya nangis, malah kita bisa ngakak2 lho…
Nah, topic kami waktu itu adalah, soal kejujuran.
Topiknya: Ada orang gayanya selangit, kayaknya sih lagi baju baru. Tapi, ya ampun maaak…
Mungkin buat dia ditu gaya, ngikutin trend, tapi… oh tapi… Itu, itu.. itu baju apa horden? Apa.. taplak meja? Kok rumbai2 gak jelas gitu? Wei, ini kan Jakarta, bukan di Hawaii atau di Afrika… hahaha…
Mau gaya sih boleh2 aja jek, tapi jangan terlalu nabrak lari dong. Apa dia memang punya obsesi ingin menjadi trend setter ya? Tapi mbok ya liat2 tempatnya dong nek…
Well, memang bukan urusan kita juga sih komen, kan baju- ya baju dia sendiri, cuman ya kita hanya melaporkan pandangan mata dan tanggapan nurani YANG SEJUJURNYA saja, hahaa.
Nah, gue tahu nih, kalo ada orang yang komen soal horden yang dia pakai itu, eh horden apa taplak tuh ya, hehee, tuh orang pasti nyelekit dan balas nyerang dan bilang: Aalaa, bilang aja loe sirik, dan gak tau fesyen!!!”
Dan kita pasti merasa menyesal telah mengungkapkan kejujuran. Sebenarnya maksud kita hanya ingin bilang, gini, “pliiss, loe lebih cakep dengan baju yang lebih down to earth, sebab loe posturnya gak mendukung.” Tapi kan kalimat terakhir juga kejujuran yang akan mengundang perang, walau sebenarnya kita hanya care. Hahahaha…
Well, well, kejujuran memang menyakitkan.
Anyway gue kagum aja tuh ama Simon Cowell, eks juri Amrik Idol. Sekalipun komen dia sering nyelekit dan bahkan terdengar sotoy dan sok perfect dan banyak yang sakit hati, gue sih tetap kagum ama dia.
Gue bayangin nih ya, kalo dia jadi juri untuk penampilan gue, komen dia akan kira-kira begini:
“Kulit udah item, muka jerawatan, pake baju gelap pula, bener2 merusak fashion!”
Wah, tapi kalo dia bilang gitu, gue akan terima dan akan segera memperbaiki diri gue. Gue percaya deh selera dia. Trus akan segera deh gue cari baju yang lebih soft dan matching di kulit.
Tapi, kalo yang ngomong gitu ke gue adalah orang yang pake taplak meja rumbai2 tadi, hohoho… gue akan bilang gini kale: TALK TO MY HAND, cong! (-;
Nah suatu kali ada beberapa org yg ngegosipin seseorang. Katanya tuh anak pake sepatu dan tas mahal dan kulitnya sekarang penuh perawatan karena sudah ada yang modalin. Wah, gossip nih.
Tapi, suer! Kalo nggak denger gossip itu, gue nggak akan pernah merhatiin anak itu. Nggak sengaja, gue jadi liat emang kulitnya makin mulus dan benar memang makin gaya deh.
Tapi, so what! Maksud gue, apapun yang dia lakukan dengan semua itu kan urusan dia, ngapain gue ikutan ngegosip. Toh memang dia keliatan keren dan penampilannya enak dilihat, so kenapa harus diomongin kesannya itu jelek? Justru kalo lihat ada improvement seperti itu, kita harus bisa ambil hikmah bahwa kita juga bisa terinspirasi untuk mempercantik diri dan merawat kulit (walau dengan cara yg halal ya). Nah, pas gue jawab begitu, gue malah jadi dianggap aneh dan disagree sama para gossiper tsb.
Well, pas gue inget2, ternyata org2 yg ngegosipin dia ini memang… well, tidak sebagus anak itulah, baik dari segi postur dan penampilan dan ‘having’nya. Pantes aja sirik, weleh weleh.
Kalo gue sih mendingan gue liat pemandangan bagus, keren dan mulus gitu karena enak dilihat daripada orang pake horden rumbai2 merusak pemandangan hahahaaaaaaaa. Selera memang subjektif ya. Tapi gue kan nggak berani nembak para gossiper itu kalau SEJUJURNYA mereka hanya sirik, hahahaha, bisa remuk-redam gue dikeroyok, hahaha…
Masih ada beberapa bentuk kejujuran lain yang kami bahas, dan jika kita langsung mengungkapkannya memang bisa jadi masalah. Kejujuran memang tak harus diungkapkan kali yaaa… what an ironic life.
Jadi ingat tokoh Brennan di serial tv BONES, sang ilmuwan hebat ahli tulang yang yang selalu to the point dan jujur kalo ngomong, jadinya bikin orang sakit hati dan menjauh kalo nggak kuat padahal maksud dia baik kok. Tapi dia hatinya emang jadi tenang karena tidak mendua hati alias munaroooohhhhhhh…
Lalu pembicaraan itu kami tutup dengan satu kesimpulan,
Ngapain sih kita ngomongin orang, biarin aja mereka berbuat sesuka hatinya, yang jelas kita bahagia, apapun yang orang lakukan, kita tak perlu merasa sirik sama orang yang kurang bahagia. Sebab orang yang sirik dan suka ngegosipin orang biasanya adalah orang yang tidak bisa jujur dengan dirinya dan tidak bahagia dengan apa yang dimilikinya.
Setuju?
So, kenapa gue suka banget kumpul sama sohib2 dekat gue, salah satunya adalah, karena kalo kita ngumpul, semua cerita bisa terasa jadi kocak dan ada hikmahnya, dan bukan jadi gossip cetek yang hanya ngejelekin pihak lain. Yang tadinya itu kisah sedih dan tragedy pun bisa kita bahasa dengan rasa humor yang kacau-beliau, dan harusnya nangis, malah kita bisa ngakak2 lho…
Nah, topic kami waktu itu adalah, soal kejujuran.
Topiknya: Ada orang gayanya selangit, kayaknya sih lagi baju baru. Tapi, ya ampun maaak…
Mungkin buat dia ditu gaya, ngikutin trend, tapi… oh tapi… Itu, itu.. itu baju apa horden? Apa.. taplak meja? Kok rumbai2 gak jelas gitu? Wei, ini kan Jakarta, bukan di Hawaii atau di Afrika… hahaha…
Mau gaya sih boleh2 aja jek, tapi jangan terlalu nabrak lari dong. Apa dia memang punya obsesi ingin menjadi trend setter ya? Tapi mbok ya liat2 tempatnya dong nek…
Well, memang bukan urusan kita juga sih komen, kan baju- ya baju dia sendiri, cuman ya kita hanya melaporkan pandangan mata dan tanggapan nurani YANG SEJUJURNYA saja, hahaa.
Nah, gue tahu nih, kalo ada orang yang komen soal horden yang dia pakai itu, eh horden apa taplak tuh ya, hehee, tuh orang pasti nyelekit dan balas nyerang dan bilang: Aalaa, bilang aja loe sirik, dan gak tau fesyen!!!”
Dan kita pasti merasa menyesal telah mengungkapkan kejujuran. Sebenarnya maksud kita hanya ingin bilang, gini, “pliiss, loe lebih cakep dengan baju yang lebih down to earth, sebab loe posturnya gak mendukung.” Tapi kan kalimat terakhir juga kejujuran yang akan mengundang perang, walau sebenarnya kita hanya care. Hahahaha…
Well, well, kejujuran memang menyakitkan.
Anyway gue kagum aja tuh ama Simon Cowell, eks juri Amrik Idol. Sekalipun komen dia sering nyelekit dan bahkan terdengar sotoy dan sok perfect dan banyak yang sakit hati, gue sih tetap kagum ama dia.
Gue bayangin nih ya, kalo dia jadi juri untuk penampilan gue, komen dia akan kira-kira begini:
“Kulit udah item, muka jerawatan, pake baju gelap pula, bener2 merusak fashion!”
Wah, tapi kalo dia bilang gitu, gue akan terima dan akan segera memperbaiki diri gue. Gue percaya deh selera dia. Trus akan segera deh gue cari baju yang lebih soft dan matching di kulit.
Tapi, kalo yang ngomong gitu ke gue adalah orang yang pake taplak meja rumbai2 tadi, hohoho… gue akan bilang gini kale: TALK TO MY HAND, cong! (-;
Nah suatu kali ada beberapa org yg ngegosipin seseorang. Katanya tuh anak pake sepatu dan tas mahal dan kulitnya sekarang penuh perawatan karena sudah ada yang modalin. Wah, gossip nih.
Tapi, suer! Kalo nggak denger gossip itu, gue nggak akan pernah merhatiin anak itu. Nggak sengaja, gue jadi liat emang kulitnya makin mulus dan benar memang makin gaya deh.
Tapi, so what! Maksud gue, apapun yang dia lakukan dengan semua itu kan urusan dia, ngapain gue ikutan ngegosip. Toh memang dia keliatan keren dan penampilannya enak dilihat, so kenapa harus diomongin kesannya itu jelek? Justru kalo lihat ada improvement seperti itu, kita harus bisa ambil hikmah bahwa kita juga bisa terinspirasi untuk mempercantik diri dan merawat kulit (walau dengan cara yg halal ya). Nah, pas gue jawab begitu, gue malah jadi dianggap aneh dan disagree sama para gossiper tsb.
Well, pas gue inget2, ternyata org2 yg ngegosipin dia ini memang… well, tidak sebagus anak itulah, baik dari segi postur dan penampilan dan ‘having’nya. Pantes aja sirik, weleh weleh.
Kalo gue sih mendingan gue liat pemandangan bagus, keren dan mulus gitu karena enak dilihat daripada orang pake horden rumbai2 merusak pemandangan hahahaaaaaaaa. Selera memang subjektif ya. Tapi gue kan nggak berani nembak para gossiper itu kalau SEJUJURNYA mereka hanya sirik, hahahaha, bisa remuk-redam gue dikeroyok, hahaha…
Masih ada beberapa bentuk kejujuran lain yang kami bahas, dan jika kita langsung mengungkapkannya memang bisa jadi masalah. Kejujuran memang tak harus diungkapkan kali yaaa… what an ironic life.
Jadi ingat tokoh Brennan di serial tv BONES, sang ilmuwan hebat ahli tulang yang yang selalu to the point dan jujur kalo ngomong, jadinya bikin orang sakit hati dan menjauh kalo nggak kuat padahal maksud dia baik kok. Tapi dia hatinya emang jadi tenang karena tidak mendua hati alias munaroooohhhhhhh…
Lalu pembicaraan itu kami tutup dengan satu kesimpulan,
Ngapain sih kita ngomongin orang, biarin aja mereka berbuat sesuka hatinya, yang jelas kita bahagia, apapun yang orang lakukan, kita tak perlu merasa sirik sama orang yang kurang bahagia. Sebab orang yang sirik dan suka ngegosipin orang biasanya adalah orang yang tidak bisa jujur dengan dirinya dan tidak bahagia dengan apa yang dimilikinya.
Setuju?
Wednesday, July 6, 2011
MASKER

Awalnya, gue nggak betah banget pake masker.
Kalau bukan karena pilek atau naik bus umum, gue merasa nggak perlu pakai masker, karena sangat mengganggu pernafasan dan keleluasaan pandangan mata, hehehe…
Tapi sekarang, gue memakainya hampir tiap hari.
Bukan karena ingin menutupi hidung gue yang agak mancung ini, hehehe, tapi karena alas an lain.
So, the reason I wear this mask currently, because I’m sick of that smell.
Daripada gue komplain terus karena tersiksa oleh bau minyak “sinyongyong”, mendingan gue cover hidung gue sendiri. Iya nggak seeeh?
Well, mungkin memang begitulah analogi yang pas untuk hidup ini. Kita tak bisa mengubah orang lain, tak bisa mengubah system atau mengubah dunia, tapi kita hanya bisa mengubah diri kita, paradigma dan pola pikir serta cara kerja/tindak-tanduk dan strategi kita.
So, now, further, I wear this mask, again, not only because of that smell any more. But, because I wanna cover my face, cover my lips and my expression, my sickness of the sucks! I don’t wanna show my real intention... The sucks is not the smell, actually. But, the person!
I can take the smell, but not the person! Thats the point.
So, I wear this mask to cover my feeling which can be shown by my face.
This is it, in Japanese, called tatemae. Mask. Masker, menjadi wujud konkrit tatemae.
Memang tidak nyaman. Tetap tidak nyaman pake masker!
Begitupun hidup. Terkadang kita harus siap tidak nyaman demi mengurangi ketidaknyamanan akan sesuatu hal. Untuk menghindari ketidaknyamanan level tinggi, kita hadapi ketidaknyaman level menengah.
Begitulah, hidup ini memang tak selalu nyaman.
Kita hanya berusaha menyamankan diri dan mencari cara-cara terbaik dari yang terburuk.
But still, I hate that smell.
Entah sampai kapan.
Gosh!
Sucks!
Sunday, July 3, 2011
Mimpi...di... Angkasa...

Mimpi itu...
Kali ini...
terlihat lebih nyata.
I saw the place...
feels so real.
Maybe, that’s because I saw the plane in the airport last week. Sejuta kenangan itu menghinggapi lagi. Sesuatu yang dulu kau lepaskan bukan karena keinginan, tapi karena keadaan, masih ingin kau rengkuh kembali, karena perpisahan yang dulu, bukan hal yang kau inginkan,..
Betapa inginnya aku kembali. Melayang di atas angkasa. Memandang awan putih, menatap langit biru, melepaskan gravitasi, mengitar pandang ke dunia di bawah sana, sejenak melupakan penat, dan tertidur lelap di antara lapisan ozon…
Ini bukan kisah cinta romansa sesama insan manusia.
Ini adalah romansa terhadap benda mati yang jadi impianku sejak kecil. Sudah pernah kumiliki dan harus kulepas, tapi kenanganku bersama'nya' adalah romantika yang seolah tak pernah berakhir. Sejuta harapan masih menggebu dan tersimpan rapi dalam hati.
Willingly, I'll be yours again?
Akankah aku menjadi bagian dari dirimu lagi?
Hari ini aku meminta bantuan google untuk mengetahui keadaan'nya'.
And I dial wrong number found in the web.
Inikah yang disebut ragu? Galau? insecure?
Ibarat sekian lama kau tak bertemu dengan seseorang, lose contact, dan ketika kau mencoba contact lagi, kau merasakan dorongan yang tertahan dengan susah payah oleh alasan-alasan yang bahkan tidak kau mengerti?
I've been travelled, not round the world yet, but until now, I realize, I believe, I still hold on to you.
Do you feel the same too?
Will you fly me again, for the rest of my life?
Or shoould I stay here with my current one way ticket condition?
i dont know.
i dont know.
i just dont know.
Tuesday, June 21, 2011
"Malaikat berwujud Manusia"
Mari bicara soal kebaikan.
Di jaman yang makin aneh ini, menerima kebaikan orang kadang menjadi suatu hal yang langka dan mengherankan. Iya nggak seeeh?? (-;
Beberapa waktu lalu, di ruang tunggu sebuah klinik gue ngobrol-obrol dengan seorang ibu. Karena dia tahu setelah dari klinik gue akan pergi ke kantor lagi, gak gue sangka dia yang sudah pesan taksi, memberikan taksinya untuk gue pake duluan pulang dan dia memesan lagi, sebab katanya gue lebih perlu taksi itu drpd dia karena dia gak kerja. Luar biasa! Kami baru berkenalan dan dia bahkan belum tahu nama gue, tapi dia bisa sebaik itu memikirkan sesuatu yang gue aja nggak kepikiran (mesan taksi). Saat itu gue merasa takjub dan sangat kagum dan bersyukur sekali. Masih ada orang baik yang tulus di Jakarta ini, ya, pikir gue.
Kali yang lain, waktu di rumah sakit, ada seorang ibu yang bawa anaknya berobat tapi hampir mau pulang karena ternyata uangnya nggak cukup. Buru-buru seorang nenek -yang lagi antri juga- buka dompet dan kasih ke ibu itu. “Ambil aja, kapan-kapan ganti, ganpang, gak masalah,” kata si nenek baik hati ini. Dan gue yakin mereka nggak kenal each other. Si ibu itu menerima uang itu dengan agak sungkan tapi sangat bersyukur, dan itu bikin gue dlm hati jd agak malu, and think, kenapa bukan gue duluan yang buka dompet yak?!!!!
Trus, kapan lagi ya gue pernah ngalamin kebaikan orang yang nggak disangka-sangka?
Oh iya, dulu, waktu masih belum menikah dan tinggal di pondok gede, suatu kali angkot yang trayeknya ke arah rumah gue mogok semua, jadilah pulang kantor gue nunggu angkot dari jam 7 sampai hampir jam 10 malam, taksi pun penuh semua karena rebutan dgn penumpang lain, ojek juga habis, dan setelah jalan kaki hampir 30 menit, melintaslah sebuah metromini dan mengangkut kita semua. Dan, tidak disangka, si kenek metro ini nggak minta bayaran lho! Pas mau kita bayar, “Nggak usah, nggak usah!!!” kata supirnya. Itu sebabnya sejak saat itu gue nggak mau lagi ngomelin supir metromini sekalipun suka ngebut dan turunin penumpang di tengah jalan. Karena rupanya masih ada sebagian yang tidak terlalu mikirin untung sendiri. hehehee...
Oh ya, waktu mahasiswa, juga gue pernah merasa sangat berutang budi. Suatu kali di kampus, tiba-tiba di jam kuliah, gue mual dan langsung keluar ruangan, panik gak tau kemana, akhirnya menuju taman, dan muntah-muntah di sana. Dalam keadaan sendirian, lemas dan malu, tiba-tiba seorang 'malaikat' datang menolong gue. Malaikat itu berwujud manusia berstatus mahasiswi, seorang wanita muda dengan wajah keibuan dan berkerudung. Dengan sigap, lemah-lembut dan tulus, dia membawa gue ke asrama putri tempat dia tinggal. Di sana, gue dikasih makan, dikasih istirahat di tempat tidur dia dan sorenya setelah agak kuat, dia antar gue pulang ke kost an gue. Tas gue di ruangan kuliah juga dicarikannya. Meski beda keyakinan, dia menolong gue tanpa pamrih. Sejak saat itu gue makin kagum dan respek sama orang yang busananya sama dengan kelakuannya.
Sayang sekali gue nggak ingat siapa namanya dan telponnya, dan sekarang gue nyesal nggak mencatatnya. Such an angel!
Masih ada contoh lain, tapi lagi lupa, ntar gue inget2 lagi dulu yeeee…
Terima kasih untuk semua malaikat dalam hidup kita, yang mengingatkan kita, walau dunia ini makin bobrok, masih ada kebaikan yang bisa menginspirasi kita untuk melakukan hal yang sama…
…to a better world to live in.
Thursday, October 14, 2010
Sayang-sayang-disayang
Sepulang kantor, sembari nunggu gue makan, anak gue Helena nyanyi-nyanyi.
*...Sayang sayang disayang aku disayang Tuhan aku diangkat jadi anakNya aku disayang Tuhan.
Sayang sayang disayang Helena disayang Tuhan…
Sayang sayang disayang Evan disayang Tuhan…
Sayang sayang disayang Mino disayang Tuhan…
Sayang sayang disayang Martua disayang Tuhan… dst*
Gue yang lagi makan hanya bisa senyum2, di lagu itu dia sebut nama adeknya, nama dia, nama gue dan nama suami.
Trus gue bilang:”Tau gak, Len, waktu mama kecil dulu, kita tuh nggak boleh sebut-sebut nama orangtua lho… Malu, sama dilarang. Anak-anak jaman sekarang aja yang udah biasa. Mama sih nggak apa2.”
Helena hanya ketawa.
“Eh tau gak Ma,” katanya, “Tadi kan Ms Murni (gurunya) nyanyi lagu ‘sayang-sayang’ ini di kelas, masa namaku paling terakhir disebut.”
“Kok bisa?”
“Nggak tau.”
“Kamu duduknya paling belakang kali?”
“Nggak, aku malah paling depan.”
“Oh, karena paling depan kali, yang belakang duluan disebut.”
”Nggak, buktinya Pricil yang duduk di depan juga disebut duluan, yang di sebelahnya lagi disebut di tengah2. Aku aja yang belakangan. Aneh deh.”
“Oh, karena Mama paling belakangan ambil rapor kamu kali.”
“Nggak, Pricil yang paling belakangan, mama dia baru ambil tadi pas Mama udah pulang dari sekolah aku.”
“Oh, mama tahu, karena kamu paling berisik di kelas kali!” gue bilang.
Terdengarlah suara tawa pembokat2 dari kamar.
Btw soal paling berisik, kan di rapor Helena dia dapat nilai C di bdg moral karena suka berisik di kelas.
Padahal nilainya bagus2, hampir separuh pelajaran dapat 100 dan sisanya paling rendah 94. Waktu ambil rapor, gurunya juga bilang begitu, pelajaran sih dia tak ada masalah, tapi dia suka ngobrol dan suka pilih2 teman, ktnya.
“Bukan, Ma, yang berisik itu Joe…” excuse Helena.
Joe itu teman sebangkunya.
“Joe tuh selalu ngajakin aku ngobrol, kalo aku nggak jawab dia ngambek, ‘ya udah gak temen ah’, gitu kata dia, Ma, jadi aku selalu jawab kalo dia ajak ngomong.”
“Nggak usah temenan aja ama orang nakal,” gue bilang. “Trus tadi kata Miss, Helen suka pilih2 teman ya?”
“Nggak kok,” jawab Helen, “Aku tuh cuma suka sebel aja sama temen2 kayak Gloria, Safina, abisnya suka sirik sama aku, kalau main, pasti aku kalo salah suka diomelin, ya udah, aku mainnya sama yang lain aja.”
"OKe, tapi nanti di rapor berikutnya, nilai kamu mesti A, nggak boleh lagi ada laporanberisik di kelas. kalo nilai A, kamu boleh minta hadiah apa aja dari mama," gue bilang. "Tapi jangan mahal2 ya, hehehhee"
"Asyik," helena teriak. "Minta barbie boleh, Ma?"
"Boleh."
"Minta sepeda?"
"Boleh."
"Boleh minta ke taman anggrek main ice skating?'
"Boleh..."
"Asyik..."
Hmmm. Pusing deh, punya anak selalu bisa ngeles. Hahaha...
Jangan2 gue juga begitu waktu kecil, hahahaa,
So, sebelum ngomelin anak, introspeksilah para orangtua, hahaaaa…
Sunday, August 29, 2010
Regret
I still feel regret about that, until now.
Last year, Helena won poetry contest (in english) at her school (TK) as the first rank.
It was on Kartini day, April 21st.
At that time, I only dressed her with ulos batak as her skirt and her selendang, with white plain shirt inside.
This year, I only put that ulos as her selendang, and she’s as a contestant for storytelling (in English).
Last year, when she won the contest, I didn’t even see her, because I was at work and I didn’t know that the parents were allowed inside to watch them.
This year, I took half day leave to watch her contest.
We were too confident at this contest, maybe.
Since last year Helena easily won that poetry contest, and this storytelling script was perfectly practiced at home, I (myself) was so optimistic that Helena will win this contest again, well… at least at big three.
And when I arrived at her school, I met the principal of her school and she asked why I didn’t dress Helena with traditional clothes. I said, ulos is a traditional clothe, right? She was just smile away misteriously.
And when the contest begun, Helena was perfectly did the storytelling, even the mom beside me admitted that she’s great and good self confidant, and asked what kind of course I gave to Helena that made her so confidant, not like this mom’s kid, that was so passive. I said, only vocal course, nothing else.
And when the winner was calling to come up, we’re so (I mean, me) deg-degan, and after the 2nd winner came up to the stage, I still hope that helena would be number one. But what come out to my surprise was, Helena didn’t win at all, not even the 6th place!
I was so surprised, and upset, and .. OMG, didn’t know what to say. Helena also cried. When she asked me, “So I’m not the winner, Mom?”, I felt so sad and said no.
“Its OK, other people deserve to win, you were there once, now their turn, its OK,” I said to her.
And knowing who’s the winner at the 4th place, which is helena’s friend with her bad English pronunciation, made me even upset. What’s wrong with Helena, he’s so smooth in her English and story, expression and motion, and even audience’s applause was so loud.
Soon I sent sms to my hubby to inform that Helena was failed. He said that’s OK for Helena to experience failure sometimes to make her stronger.
And when Helena asked me again, “Why I didn’t win the contest, Mom?”
I cant answer. She was perfect. I didn’t know the answer. The upset filled me up like even could burn me inside.
Next day, Helena asked directly to her teacher (FYI, the judges was not their teacher, but from elementary teacher) why she was failed.
And the answer is…, because Helena didn’t wear traditional clothes!!!!!
Helena said, she wore ulos batak, and her teacher said, Helena also wore modern dress inside, that was banned!
The contest condition is first has to wear that traditional clothes, and second is the storytelling itself!
No wonder Helena’s friend which obviously couldn’t spell her English well won the 4th grade!
If I was told that condition, I would have dressed my daughter with the most beautiful traditional bali girl performance, oouughhhhkkkk!!!!
And what kill me so bad is to realize that it’ll be the last chance for her to participate such contest because she will be on elementary school next year!!!
Ough, I feel so regret! That was my fault. It was my missing! I was the one to blame.
I didn’t take care of my kid clothes so she failed. What kind of mom am I ? I feel like I could kill myself to know the condition!
I am the one who make my kid failed, and the regret feeling is still killing me until now.
Forgive me, kid, I never mean to missed that thing.
So, that was not merely storytelling contest then, it was traditional wear contest which combined with storytelling!!!!
Well actually I also didnt participate my kid on fashion show contest (there's also such contest there) since i prefer her to participate in storytelling, you know, I prefer contest for brain than appearance even though I believe I could make over my kid best, hehehe.
Still,...
Oughhhhkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk!!!!
What a stupid misscommunication!
Subscribe to:
Posts (Atom)


