Sunday, July 31, 2011

Breakfast in Yogya



Kota ini selalu mengingatkanku akan dua lagu.
satu lagunya KLA, satu lagi lagu Ebiet.

..di sini aku dilahirkan... di sini aku dibesarkan.. semangatku... keyakinanku pun terbentuk... masihkah debu jalanan mengiringi langkahku... setiap sudutmu menyimpan...derapku...
yogyakarta...

Yogya memang bukan kota kelahiran atau kebesaran gue, tapi nggak tahu, gue punya interest yang tinggi akan kota yang satu ini.

gudeg, becak, candi, istana, batik, mungkin memang bagian dari daya pikatnya.
gue malah terpikir untuk bikin buku dengan judul "Breakfast in Yogya",
well, someday, why not? (:

selama 4 hari minus di sana bulan juni kemarin, belum cukup puas bagi gue untuk explore. well, may be next time, will be there again.

dan mungkin saat itu gue akan bernyanyi... ala KLA,

...pulang ke kotamu...
ada setangkup haruku dalam rindu..
masih seperti dulu..
setiap sudut menyapaku bersahabat..
penuh selaksa makna...

Kejujuran?

Talking ‘bout kejujuran,…

So, kenapa gue suka banget kumpul sama sohib2 dekat gue, salah satunya adalah, karena kalo kita ngumpul, semua cerita bisa terasa jadi kocak dan ada hikmahnya, dan bukan jadi gossip cetek yang hanya ngejelekin pihak lain. Yang tadinya itu kisah sedih dan tragedy pun bisa kita bahasa dengan rasa humor yang kacau-beliau, dan harusnya nangis, malah kita bisa ngakak2 lho…

Nah, topic kami waktu itu adalah, soal kejujuran.
Topiknya: Ada orang gayanya selangit, kayaknya sih lagi baju baru. Tapi, ya ampun maaak…
Mungkin buat dia ditu gaya, ngikutin trend, tapi… oh tapi… Itu, itu.. itu baju apa horden? Apa.. taplak meja? Kok rumbai2 gak jelas gitu? Wei, ini kan Jakarta, bukan di Hawaii atau di Afrika… hahaha…

Mau gaya sih boleh2 aja jek, tapi jangan terlalu nabrak lari dong. Apa dia memang punya obsesi ingin menjadi trend setter ya? Tapi mbok ya liat2 tempatnya dong nek…

Well, memang bukan urusan kita juga sih komen, kan baju- ya baju dia sendiri, cuman ya kita hanya melaporkan pandangan mata dan tanggapan nurani YANG SEJUJURNYA saja, hahaa.
Nah, gue tahu nih, kalo ada orang yang komen soal horden yang dia pakai itu, eh horden apa taplak tuh ya, hehee, tuh orang pasti nyelekit dan balas nyerang dan bilang: Aalaa, bilang aja loe sirik, dan gak tau fesyen!!!”

Dan kita pasti merasa menyesal telah mengungkapkan kejujuran. Sebenarnya maksud kita hanya ingin bilang, gini, “pliiss, loe lebih cakep dengan baju yang lebih down to earth, sebab loe posturnya gak mendukung.” Tapi kan kalimat terakhir juga kejujuran yang akan mengundang perang, walau sebenarnya kita hanya care. Hahahaha…

Well, well, kejujuran memang menyakitkan.
Anyway gue kagum aja tuh ama Simon Cowell, eks juri Amrik Idol. Sekalipun komen dia sering nyelekit dan bahkan terdengar sotoy dan sok perfect dan banyak yang sakit hati, gue sih tetap kagum ama dia.

Gue bayangin nih ya, kalo dia jadi juri untuk penampilan gue, komen dia akan kira-kira begini:
“Kulit udah item, muka jerawatan, pake baju gelap pula, bener2 merusak fashion!”
Wah, tapi kalo dia bilang gitu, gue akan terima dan akan segera memperbaiki diri gue. Gue percaya deh selera dia. Trus akan segera deh gue cari baju yang lebih soft dan matching di kulit.

Tapi, kalo yang ngomong gitu ke gue adalah orang yang pake taplak meja rumbai2 tadi, hohoho… gue akan bilang gini kale: TALK TO MY HAND, cong! (-;

Nah suatu kali ada beberapa org yg ngegosipin seseorang. Katanya tuh anak pake sepatu dan tas mahal dan kulitnya sekarang penuh perawatan karena sudah ada yang modalin. Wah, gossip nih.
Tapi, suer! Kalo nggak denger gossip itu, gue nggak akan pernah merhatiin anak itu. Nggak sengaja, gue jadi liat emang kulitnya makin mulus dan benar memang makin gaya deh.
Tapi, so what! Maksud gue, apapun yang dia lakukan dengan semua itu kan urusan dia, ngapain gue ikutan ngegosip. Toh memang dia keliatan keren dan penampilannya enak dilihat, so kenapa harus diomongin kesannya itu jelek? Justru kalo lihat ada improvement seperti itu, kita harus bisa ambil hikmah bahwa kita juga bisa terinspirasi untuk mempercantik diri dan merawat kulit (walau dengan cara yg halal ya). Nah, pas gue jawab begitu, gue malah jadi dianggap aneh dan disagree sama para gossiper tsb.

Well, pas gue inget2, ternyata org2 yg ngegosipin dia ini memang… well, tidak sebagus anak itulah, baik dari segi postur dan penampilan dan ‘having’nya. Pantes aja sirik, weleh weleh.

Kalo gue sih mendingan gue liat pemandangan bagus, keren dan mulus gitu karena enak dilihat daripada orang pake horden rumbai2 merusak pemandangan hahahaaaaaaaa. Selera memang subjektif ya. Tapi gue kan nggak berani nembak para gossiper itu kalau SEJUJURNYA mereka hanya sirik, hahahaha, bisa remuk-redam gue dikeroyok, hahaha…

Masih ada beberapa bentuk kejujuran lain yang kami bahas, dan jika kita langsung mengungkapkannya memang bisa jadi masalah. Kejujuran memang tak harus diungkapkan kali yaaa… what an ironic life.

Jadi ingat tokoh Brennan di serial tv BONES, sang ilmuwan hebat ahli tulang yang yang selalu to the point dan jujur kalo ngomong, jadinya bikin orang sakit hati dan menjauh kalo nggak kuat padahal maksud dia baik kok. Tapi dia hatinya emang jadi tenang karena tidak mendua hati alias munaroooohhhhhhh…

Lalu pembicaraan itu kami tutup dengan satu kesimpulan,
Ngapain sih kita ngomongin orang, biarin aja mereka berbuat sesuka hatinya, yang jelas kita bahagia, apapun yang orang lakukan, kita tak perlu merasa sirik sama orang yang kurang bahagia. Sebab orang yang sirik dan suka ngegosipin orang biasanya adalah orang yang tidak bisa jujur dengan dirinya dan tidak bahagia dengan apa yang dimilikinya.

Setuju?

Wednesday, July 6, 2011

MASKER


Awalnya, gue nggak betah banget pake masker.

Kalau bukan karena pilek atau naik bus umum, gue merasa nggak perlu pakai masker, karena sangat mengganggu pernafasan dan keleluasaan pandangan mata, hehehe…

Tapi sekarang, gue memakainya hampir tiap hari.
Bukan karena ingin menutupi hidung gue yang agak mancung ini, hehehe, tapi karena alas an lain.

So, the reason I wear this mask currently, because I’m sick of that smell.
Daripada gue komplain terus karena tersiksa oleh bau minyak “sinyongyong”, mendingan gue cover hidung gue sendiri. Iya nggak seeeh?

Well, mungkin memang begitulah analogi yang pas untuk hidup ini. Kita tak bisa mengubah orang lain, tak bisa mengubah system atau mengubah dunia, tapi kita hanya bisa mengubah diri kita, paradigma dan pola pikir serta cara kerja/tindak-tanduk dan strategi kita.

So, now, further, I wear this mask, again, not only because of that smell any more. But, because I wanna cover my face, cover my lips and my expression, my sickness of the sucks! I don’t wanna show my real intention... The sucks is not the smell, actually. But, the person!
I can take the smell, but not the person! Thats the point.
So, I wear this mask to cover my feeling which can be shown by my face.
This is it, in Japanese, called tatemae. Mask. Masker, menjadi wujud konkrit tatemae.

Memang tidak nyaman. Tetap tidak nyaman pake masker!
Begitupun hidup. Terkadang kita harus siap tidak nyaman demi mengurangi ketidaknyamanan akan sesuatu hal. Untuk menghindari ketidaknyamanan level tinggi, kita hadapi ketidaknyaman level menengah.

Begitulah, hidup ini memang tak selalu nyaman.
Kita hanya berusaha menyamankan diri dan mencari cara-cara terbaik dari yang terburuk.

But still, I hate that smell.
Entah sampai kapan.
Gosh!
Sucks!

Sunday, July 3, 2011

Mimpi...di... Angkasa...













Mimpi itu...
Kali ini...
terlihat lebih nyata.
I saw the place...
feels so real.

Maybe, that’s because I saw the plane in the airport last week. Sejuta kenangan itu menghinggapi lagi. Sesuatu yang dulu kau lepaskan bukan karena keinginan, tapi karena keadaan, masih ingin kau rengkuh kembali, karena perpisahan yang dulu, bukan hal yang kau inginkan,..

Betapa inginnya aku kembali. Melayang di atas angkasa. Memandang awan putih, menatap langit biru, melepaskan gravitasi, mengitar pandang ke dunia di bawah sana, sejenak melupakan penat, dan tertidur lelap di antara lapisan ozon…

Ini bukan kisah cinta romansa sesama insan manusia.
Ini adalah romansa terhadap benda mati yang jadi impianku sejak kecil. Sudah pernah kumiliki dan harus kulepas, tapi kenanganku bersama'nya' adalah romantika yang seolah tak pernah berakhir. Sejuta harapan masih menggebu dan tersimpan rapi dalam hati.

Willingly, I'll be yours again?
Akankah aku menjadi bagian dari dirimu lagi?

Hari ini aku meminta bantuan google untuk mengetahui keadaan'nya'.
And I dial wrong number found in the web.

Inikah yang disebut ragu? Galau? insecure?
Ibarat sekian lama kau tak bertemu dengan seseorang, lose contact, dan ketika kau mencoba contact lagi, kau merasakan dorongan yang tertahan dengan susah payah oleh alasan-alasan yang bahkan tidak kau mengerti?

I've been travelled, not round the world yet, but until now, I realize, I believe, I still hold on to you.

Do you feel the same too?
Will you fly me again, for the rest of my life?
Or shoould I stay here with my current one way ticket condition?

i dont know.
i dont know.
i just dont know.

Tuesday, June 21, 2011

"Malaikat berwujud Manusia"


Mari bicara soal kebaikan.
Di jaman yang makin aneh ini, menerima kebaikan orang kadang menjadi suatu hal yang langka dan mengherankan. Iya nggak seeeh?? (-;

Beberapa waktu lalu, di ruang tunggu sebuah klinik gue ngobrol-obrol dengan seorang ibu. Karena dia tahu setelah dari klinik gue akan pergi ke kantor lagi, gak gue sangka dia yang sudah pesan taksi, memberikan taksinya untuk gue pake duluan pulang dan dia memesan lagi, sebab katanya gue lebih perlu taksi itu drpd dia karena dia gak kerja. Luar biasa! Kami baru berkenalan dan dia bahkan belum tahu nama gue, tapi dia bisa sebaik itu memikirkan sesuatu yang gue aja nggak kepikiran (mesan taksi). Saat itu gue merasa takjub dan sangat kagum dan bersyukur sekali. Masih ada orang baik yang tulus di Jakarta ini, ya, pikir gue.

Kali yang lain, waktu di rumah sakit, ada seorang ibu yang bawa anaknya berobat tapi hampir mau pulang karena ternyata uangnya nggak cukup. Buru-buru seorang nenek -yang lagi antri juga- buka dompet dan kasih ke ibu itu. “Ambil aja, kapan-kapan ganti, ganpang, gak masalah,” kata si nenek baik hati ini. Dan gue yakin mereka nggak kenal each other. Si ibu itu menerima uang itu dengan agak sungkan tapi sangat bersyukur, dan itu bikin gue dlm hati jd agak malu, and think, kenapa bukan gue duluan yang buka dompet yak?!!!!

Trus, kapan lagi ya gue pernah ngalamin kebaikan orang yang nggak disangka-sangka?

Oh iya, dulu, waktu masih belum menikah dan tinggal di pondok gede, suatu kali angkot yang trayeknya ke arah rumah gue mogok semua, jadilah pulang kantor gue nunggu angkot dari jam 7 sampai hampir jam 10 malam, taksi pun penuh semua karena rebutan dgn penumpang lain, ojek juga habis, dan setelah jalan kaki hampir 30 menit, melintaslah sebuah metromini dan mengangkut kita semua. Dan, tidak disangka, si kenek metro ini nggak minta bayaran lho! Pas mau kita bayar, “Nggak usah, nggak usah!!!” kata supirnya. Itu sebabnya sejak saat itu gue nggak mau lagi ngomelin supir metromini sekalipun suka ngebut dan turunin penumpang di tengah jalan. Karena rupanya masih ada sebagian yang tidak terlalu mikirin untung sendiri. hehehee...

Oh ya, waktu mahasiswa, juga gue pernah merasa sangat berutang budi. Suatu kali di kampus, tiba-tiba di jam kuliah, gue mual dan langsung keluar ruangan, panik gak tau kemana, akhirnya menuju taman, dan muntah-muntah di sana. Dalam keadaan sendirian, lemas dan malu, tiba-tiba seorang 'malaikat' datang menolong gue. Malaikat itu berwujud manusia berstatus mahasiswi, seorang wanita muda dengan wajah keibuan dan berkerudung. Dengan sigap, lemah-lembut dan tulus, dia membawa gue ke asrama putri tempat dia tinggal. Di sana, gue dikasih makan, dikasih istirahat di tempat tidur dia dan sorenya setelah agak kuat, dia antar gue pulang ke kost an gue. Tas gue di ruangan kuliah juga dicarikannya. Meski beda keyakinan, dia menolong gue tanpa pamrih. Sejak saat itu gue makin kagum dan respek sama orang yang busananya sama dengan kelakuannya.

Sayang sekali gue nggak ingat siapa namanya dan telponnya, dan sekarang gue nyesal nggak mencatatnya. Such an angel!

Masih ada contoh lain, tapi lagi lupa, ntar gue inget2 lagi dulu yeeee…

Terima kasih untuk semua malaikat dalam hidup kita, yang mengingatkan kita, walau dunia ini makin bobrok, masih ada kebaikan yang bisa menginspirasi kita untuk melakukan hal yang sama…

…to a better world to live in.

Thursday, October 14, 2010

Sayang-sayang-disayang


Sepulang kantor, sembari nunggu gue makan, anak gue Helena nyanyi-nyanyi.

*...Sayang sayang disayang aku disayang Tuhan aku diangkat jadi anakNya aku disayang Tuhan.
Sayang sayang disayang Helena disayang Tuhan…
Sayang sayang disayang Evan disayang Tuhan…
Sayang sayang disayang Mino disayang Tuhan…
Sayang sayang disayang Martua disayang Tuhan… dst*

Gue yang lagi makan hanya bisa senyum2, di lagu itu dia sebut nama adeknya, nama dia, nama gue dan nama suami.
Trus gue bilang:”Tau gak, Len, waktu mama kecil dulu, kita tuh nggak boleh sebut-sebut nama orangtua lho… Malu, sama dilarang. Anak-anak jaman sekarang aja yang udah biasa. Mama sih nggak apa2.”
Helena hanya ketawa.
“Eh tau gak Ma,” katanya, “Tadi kan Ms Murni (gurunya) nyanyi lagu ‘sayang-sayang’ ini di kelas, masa namaku paling terakhir disebut.”
“Kok bisa?”
“Nggak tau.”
“Kamu duduknya paling belakang kali?”
“Nggak, aku malah paling depan.”
“Oh, karena paling depan kali, yang belakang duluan disebut.”
”Nggak, buktinya Pricil yang duduk di depan juga disebut duluan, yang di sebelahnya lagi disebut di tengah2. Aku aja yang belakangan. Aneh deh.”
“Oh, karena Mama paling belakangan ambil rapor kamu kali.”
“Nggak, Pricil yang paling belakangan, mama dia baru ambil tadi pas Mama udah pulang dari sekolah aku.”
“Oh, mama tahu, karena kamu paling berisik di kelas kali!” gue bilang.
Terdengarlah suara tawa pembokat2 dari kamar.
Btw soal paling berisik, kan di rapor Helena dia dapat nilai C di bdg moral karena suka berisik di kelas.
Padahal nilainya bagus2, hampir separuh pelajaran dapat 100 dan sisanya paling rendah 94. Waktu ambil rapor, gurunya juga bilang begitu, pelajaran sih dia tak ada masalah, tapi dia suka ngobrol dan suka pilih2 teman, ktnya.
“Bukan, Ma, yang berisik itu Joe…” excuse Helena.
Joe itu teman sebangkunya.
“Joe tuh selalu ngajakin aku ngobrol, kalo aku nggak jawab dia ngambek, ‘ya udah gak temen ah’, gitu kata dia, Ma, jadi aku selalu jawab kalo dia ajak ngomong.”
“Nggak usah temenan aja ama orang nakal,” gue bilang. “Trus tadi kata Miss, Helen suka pilih2 teman ya?”
“Nggak kok,” jawab Helen, “Aku tuh cuma suka sebel aja sama temen2 kayak Gloria, Safina, abisnya suka sirik sama aku, kalau main, pasti aku kalo salah suka diomelin, ya udah, aku mainnya sama yang lain aja.”
"OKe, tapi nanti di rapor berikutnya, nilai kamu mesti A, nggak boleh lagi ada laporanberisik di kelas. kalo nilai A, kamu boleh minta hadiah apa aja dari mama," gue bilang. "Tapi jangan mahal2 ya, hehehhee"
"Asyik," helena teriak. "Minta barbie boleh, Ma?"
"Boleh."
"Minta sepeda?"
"Boleh."
"Boleh minta ke taman anggrek main ice skating?'
"Boleh..."
"Asyik..."


Hmmm. Pusing deh, punya anak selalu bisa ngeles. Hahaha...
Jangan2 gue juga begitu waktu kecil, hahahaa,
So, sebelum ngomelin anak, introspeksilah para orangtua, hahaaaa…

Sunday, August 29, 2010

Regret


I still feel regret about that, until now.

Last year, Helena won poetry contest (in english) at her school (TK) as the first rank.
It was on Kartini day, April 21st.
At that time, I only dressed her with ulos batak as her skirt and her selendang, with white plain shirt inside.
This year, I only put that ulos as her selendang, and she’s as a contestant for storytelling (in English).

Last year, when she won the contest, I didn’t even see her, because I was at work and I didn’t know that the parents were allowed inside to watch them.
This year, I took half day leave to watch her contest.

We were too confident at this contest, maybe.
Since last year Helena easily won that poetry contest, and this storytelling script was perfectly practiced at home, I (myself) was so optimistic that Helena will win this contest again, well… at least at big three.

And when I arrived at her school, I met the principal of her school and she asked why I didn’t dress Helena with traditional clothes. I said, ulos is a traditional clothe, right? She was just smile away misteriously.

And when the contest begun, Helena was perfectly did the storytelling, even the mom beside me admitted that she’s great and good self confidant, and asked what kind of course I gave to Helena that made her so confidant, not like this mom’s kid, that was so passive. I said, only vocal course, nothing else.

And when the winner was calling to come up, we’re so (I mean, me) deg-degan, and after the 2nd winner came up to the stage, I still hope that helena would be number one. But what come out to my surprise was, Helena didn’t win at all, not even the 6th place!

I was so surprised, and upset, and .. OMG, didn’t know what to say. Helena also cried. When she asked me, “So I’m not the winner, Mom?”, I felt so sad and said no.
“Its OK, other people deserve to win, you were there once, now their turn, its OK,” I said to her.

And knowing who’s the winner at the 4th place, which is helena’s friend with her bad English pronunciation, made me even upset. What’s wrong with Helena, he’s so smooth in her English and story, expression and motion, and even audience’s applause was so loud.

Soon I sent sms to my hubby to inform that Helena was failed. He said that’s OK for Helena to experience failure sometimes to make her stronger.
And when Helena asked me again, “Why I didn’t win the contest, Mom?”
I cant answer. She was perfect. I didn’t know the answer. The upset filled me up like even could burn me inside.

Next day, Helena asked directly to her teacher (FYI, the judges was not their teacher, but from elementary teacher) why she was failed.
And the answer is…, because Helena didn’t wear traditional clothes!!!!!
Helena said, she wore ulos batak, and her teacher said, Helena also wore modern dress inside, that was banned!
The contest condition is first has to wear that traditional clothes, and second is the storytelling itself!

No wonder Helena’s friend which obviously couldn’t spell her English well won the 4th grade!
If I was told that condition, I would have dressed my daughter with the most beautiful traditional bali girl performance, oouughhhhkkkk!!!!
And what kill me so bad is to realize that it’ll be the last chance for her to participate such contest because she will be on elementary school next year!!!

Ough, I feel so regret! That was my fault. It was my missing! I was the one to blame.
I didn’t take care of my kid clothes so she failed. What kind of mom am I ? I feel like I could kill myself to know the condition!
I am the one who make my kid failed, and the regret feeling is still killing me until now.
Forgive me, kid, I never mean to missed that thing.
So, that was not merely storytelling contest then, it was traditional wear contest which combined with storytelling!!!!

Well actually I also didnt participate my kid on fashion show contest (there's also such contest there) since i prefer her to participate in storytelling, you know, I prefer contest for brain than appearance even though I believe I could make over my kid best, hehehe.

Still,...
Oughhhhkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk!!!!
What a stupid misscommunication!

Sunday, April 18, 2010

Why Kartini day?


Makin lama anak gue yang kecil ini (Evan) makin ngangenin deh.
Pernah suatu malam dia bangunin gue, gue kirain dia mau minum, eh taunya cuma mau nyanyiin lagu dia yang suka gue jadiin lagu pengantar tidur dia, yaitu:

"Matahari terbenam - hari mulai malam - terdengar burung hantu - suaranya merdu - kuku-kuku-kuku-kuku-kuku...."

Nah di bagian 'kuku-kuku' ini dia cukup jelas tapi di kalimat bagian depan masih belepotan hahaha...
Gini nih dia nyanyinya:
"matatadi tetedam..dati huda datam... kuku-kuku-kuku-... "
dst...

Trus kalo berangkat kerja kayaknya makin nggak tega ninggalin dia deh, tatapan matanya itu lho kayaknya nggak rela ditinggal di rumah sendirian, apalagi kakaknya kan sekolah juga. Kalo kita dadagh2, dia tuh ngeliatin dengan sayu dan kita rasanya jadi pengen cepet pulang dari kantor kalo inget dia.

Sabar ya sayang, dua tahun lagi kamu juga sekolah kayak kakak...
-*-

Trus kalo helena ada lagi ceritanya.
Dia kan lagi latihan untuk lomba storytelling bhs inggris untuk perayaan kartini di sekolah.

Trus semalam, setelah dia nyanyiin lagu "ibu kita kartini' dia tanya,
"Memangnya hari ibu kartini itu kenapa dirayain, Ma?"
Trus gue bilang, karena bu kartini lah yang jadi pionir perempuan sekolah di indonesia.
Trus dia tanya lagi, "Memangnya kenapa dulu perempuan nggak sekolah?"
Lalu gue jawab, karena dulu dianggap perempuan di rumah aja, cowok yang sekolah dan bekerja untuk cari uang.
Trus helena bilang lagi, "Oh maksudnya kalo kayak Papa dan Mama, mestinya Papa aja yang cari uang, gitu ya Ma?"
Iya, gue bilang.

Dan yang nggak gue sangka adalah, dia bilang gini:
"Kalo gitu, nanti kalau aku menikah, Timothy aja yang cari uang."
Dan gue pun nagaakakakak kakakakakakakakkkkkk...

PS. Timothy itu gebetannya, yang selalu bilang helena akan jd istrinya kelak.

Sunday, March 21, 2010

The Birthday's


Sabtu kemarin ultah Evan yang kedua, dan pas bangun paginya setelah mengucapkan selamat ultah, gue bilang gini sama Evan,
"Evan kan sudah dua tahun, jadi sekarang ada tiga tugas Evan, satu: harus bisa makan nasi, dua: harus sudah lancar ngomong, tiga: nggak usah pakai pampers lagi."
Evan mah cuek aja gue omongin gitu, hahaha, iya iyalah, dia belum ngerti kale.

Tapi pas siangnya kita main sambil nonton tivi, anak gue yang gedean, Helena, mengulangi kalimat gue sama adeknya, soal ketiga 'tugas' itu, itu di luar dugaan gue, sebab kirain Helena tadi pagi masih tidur waktu gue ngomong gitu ke Evan.
Gue ketawa aja dan kagum sama daya ingat dan daya tangkap putri gue yang cerewet itu.

Pas malamnya kita mau titip lilin, Evan yang sudah dikerubungi sepupu-sepupunya untuk meniup lilin sama-sama, setelah kita nyanyiin happy birthday dan pada tepuk tangan, eh tiba-tiba Evan nangis, akhirnya prosesi peniupan lilin kita hentikan sementara menunggu Evan brenti nangis, padahal sepupu2 kecilnya sudah pada nggak sabar meniup lilin.
Setelah Evan brenti nangis, kita nyanyi lagi, dan pas mau niup lilin, eh akhirnya lilinnya mati sendiri karena sumbunya habis, kan emang pendek tuh sumbu lilin angka yg buat ultahan, hahahaa...

Ada beberapa kado buat Evan, satu set drum besar, senapan2 laser, mobil2an remote, dll, tapi memang dasar Evan sukanya mobil2an (dan gue udah pesenin ke ipar gue kalo mau ngasih kado mobil2an aja), begitu buka kado mobil2annya, langsung deh dia mainin tuh mobil2an, nggak peduli kado2 lain, malah akhirnya kakaknya dan sepupu2nya yang mainin kado tembak2annya dan ngegebukin drum-nya, jadilah ramai kayak pasar malam, heboh deh rumah gue kacau kayak kapal pecah dan bising kayak terminal, hahaahaha...

But, everybody's happy.

Sedangkan Helena, kemarin sore, sehabis main di pekarangan, tiba-tiba berbisik gini ke gue, "Ma, aku punya pacar baru, namanya Rayja (?), dia suka banget sama aku, tapi mama jangan bilang-bilang sama dia ya kalo aku pacarnya."
Nah, bingung kan loe?!
Nah, defenisi dia tentang pacar adalah cowok yang dia sukai, jadi pacar dia sekarang ada banyak, sbb:

1,2.. Nico dan Timothy, teman sekolah minggu
3. Nat, vocalis Naked Brothers Band (band anak kecil)
4. Jonas Brothers Band
5. Eifel, senior di sekolah, satu mobil jemputan
6. Farel, temen sekelas di TK

Hahahahaaa... tapi memang selera anak gue ini tinggi juga lho, semua koleksi 'pacar'nya itu memang ganteng2 semua, hahahahahaa...

Pernah Helena lagi mau nulis surat, trus gue tanya buat siapa, dan dia nanya ke gue, boleh nggak kirim surat sama Farel, trus gue bilang NGGAK BOLEH, dia tanya kenapa, gue jawab: Cowok aja yang ngirim surat ama cewek, cewek nggak usah nyuratin cowok, mama juga waktu dulu sekolah begitu, mama yang dikirimin surat ama cowok.
Trus anak gue bilang, ah kan isinya cuma nanya apa kabar.
Tetep nggak boleh, gue bilang.

Waduuuhhhhhhhhhhh, anak TK jaman sekarang gayanya udah kayak anak remaja ABG ya, hahahahahaaaaaaa...

Wednesday, March 17, 2010

Tak harus juara

Sabtu minggu lalu Helena ikut lomba storytelling alkitab tingkat antar TK dalam grup sekolah BPK Penabur, diselenggarakan di Tirtamarta Pondok Indah.
Waktu latihan terakhir di rumah hari jumatnya, gue sengaja cuti setengah hari untuk pulang lebih cepat biar bisa ngajarin helena/latihan di rumah, sebab lombanya adalah sabtu besoknya.
Pas latihan terakhir ini Helena ogah-ogahan, udah bisa kok Ma, katanya tapi pas gue suruh perform, masih suka lupa urutan ceritanya, oh ya ceritanya soal Yunus di perut ikan.

Tumben banget dia ogah-ogahan latihan, malah sempat bilang nggak mau ikutan lomba padahal biasanya dia selalu semangat. Gue tetap menyemangati dan mengingat pesertanya adalah anak2 'kelas atas' yaitu kelas national plus, gue sambil deg-degan menyemangati helena terus latihan. Lumayan banget kan kalo dia bisa menang gitu, nggak cuma dapat piala di kandang sendiri. Walaupun kali ini gue sangat (entah kenapa) pesimis dan kuatir kalo dia nggak menang, gue takut helena frustasi, geto loh...

Akhirnya pas hari H, lomba pun dimulai, dan busyet! pesertanya banyak banget, hampir 50 org kali tuh, hampir tiga jam acaranya dan anak gue ada di urutan peserta 10 terakhir, udah keburu bosan semua juri dan peserta dan penonton kaleeee...

Beberapa peserta melakukan story telling dalam bahasa Inggris, tapi bagi gue biasa aja karena cara bercerita mereka tidak menarik. Yang menarik cuma dua orang yang memang gue yakin pasti dapat juara, yaitu presentasi dalam bahasa Indonesia, simpel dan lugas.

Nah, helena kan udah gue ajarin kayak gitu tuh di rumah, dan bahkan lebih menarik cara berceritanya karena helena juga gue ajarin untuk bilang BYUR ketika yunus dilempar ke laut, dan bilang HAAP ketika yunus dimakan ikan, dan berekspresi sedih ketika Tuhan sedih melihat warga niniwe yang jahat, dan berdoa dengan suara keras ketika Yunus di perut ikan. Semua latihan sempurna, dan jauh lebih oke daripada dua peserta yg menurut gue yg terbaik yang udah presentasi tadi.
Tapi pas helena dipanggil maju ke depan, ternyata di sekolah dia dilatih untuk presentasi sambil pake gambar, dan itulah yang jadi masalah!

Anak sekecil itu harusnya gak usah disuruh cerita sambil presentasi pake gambar karena justru bikin repot dan bingung harus matching-matchingin gambar ke cerita!!!!
Begitu gue lihat helena kerepotan milih gambar, gue langsung frustasi dan gak yakin dia akan menang. Sambil memilih gambar, helena jadi gugup dan agak lupa jalan cerita, yang notabene bisa dia ceritakan dengan lancar bila tanpa gambar, seperti latihan di rumah.

Nah, pas pemanggilan juara, begitu juara harapan tiga dan dua diumumin dan nama anak gue nggak dipanggil, gue udah yakin seratus persen kalo helena nggak juara! Nggak mungkin juara di atas itu urutannya! Dan bener, juara satunya yg pake BYUR itu, dan juara dua yang satu lagi yang simpel itu.

Gue jadi sedih karena jika latihannya mengikuti latihan gue di rumah, gue yakin minimal juara tiga helena pasti dapat! Sebab juara satu itu hanya menambahkan kata BYUR di ceritanya (cerita yunus juga) selainnya cuma bercerita sesuai isi teks.

Waduuuhhhhhhhhhh, gue sedih banget (tapi hanya dalam hati), dan kuatir banget kalo helena kecewa nggak juara. Dalam hati gue udah siap-siap bawa helena main ke pondok indah mall untuk menghibur seandainya dia kecewa, dan mungkin gue akan beliin mainan atau apa aja biar dia nggak kecewa banget karena nggak juara.

Tapi pas habis pengumuman, helena tuh sibuk makanan cemilan dan cuek aja pas gue bilang bahwa dia nggak juara. Nggak apa-apa, kata dia. Gue langsung lega banget!

Gue juga sedih dan nggak enak sama gurunya yang keliatan sedih juga muridnya nggak menang dan bilang ke gue gini: Lumayan buat jadi pengalaman aja ya Bu.

Well, memang kita tak selalu harus juara, tak selalu menang, yang penting adalah kita bisa melihat hikmah dari setiap kegagalan, dan kita bisa menerima setiap kekelahan sebagai pelajaran yang membuat kita lebih baik.

Love you, Helena my daughter, proud of you!

Sekalipun nggak menang, ternyata sebenarnya potensi/kualitasmu jauh lebih oke daripada anak2 kelas national plus itu, cuma salah arahan aja ama latihan guru2 di sekolahmu, hahaha...