Thursday, December 22, 2011

Doaku untukmu...

“WIPER BAGI KALBU”

Berkabut…

Bagaikan kaca mobil di kala hujan. Kau butuh wiper. Membersihkan. Kabut. Awan. Embun. Apapun namanya, yang menghalangi pemandangan. Sebab jika dibiarkan, bisa membahayakan penglihatan. Perjalanan masih panjang. Bahaya mengintip. Mata harus tetap awas. Penglihatan harus tetap jelas. Pandangan, visi, harus tetap jelas.
Visi… hffff… kau mengeluh. Benarkah ini soal visi? Kau bertanya.

Kau bilang, merasa beberapa tahun ini agak berkabut. Ya. Mungkin itulah diksi paling tepat. Berkabut. Banyak yang mengotori kaca ‘mobil’mu. Debu. Embun. Kotoran.
Dan berkabut menjadi sesuatu yang tidak nyaman. Mungkin itu sebabnya kau merasa gelisah. Galau. Ya, galau. Kau sebut demikian. Kau juga merasa kering. Sesuatu dalam jiwa serasa berkurang. Damai, mungkin? Kau bertanya, mungkinkah itu karena rasa galau atau kuatir tadi telah menggeser sebagian (besar) posisi ‘damai’ dalam hati?
Kau mencoba menelusuri. Apa itu yang mencuri damai hatimu. Dunia. Yeah rite! Apa lagi! Tapi aku bukan manusia matre, debatmu. Tentu. Semua manusia matre, hanya kadarnya yang berbeda, akuimu malu-malu kemudian. Mungkinkah kadar matre-ku makin bertambah? Kau bertanya. Aku tak tahu. Kau merasa terlalu sering memikirkan materi sekarang. Kenapa? Aku balik bertanya. Kau merenung.

…I’ll be home for Christmas…
Entah kenapa lagu itu membuatmu tertohok. Home. For Christmas.
Home. Home? Kau merasa sedang ‘jauh’, atau tersesat?

Kenapa greget itu kurang terasa? Kau bertanya. Tahun-tahun berlalu begitu saja. Kau kering. Kau sebut dirimu gersang. Apa yang salah? Kurang cairan? Nutrisi?
Di mana semangat itu? Semarak itu? Kau mencari-cari. Ingatanmu kembali ke tahun-tahun dulu dimana bulan ini adalah pesta rohani bagimu. Ya. Rohani. Bukan sekedar jasmani. Sebab itu hanya berlalu begitu saja. Ibarat sebotol champagne mahal akan terlupakan ketika terbuang di jamban esok paginya.
Di mana pesta itu?

Aku tersenyum. Kau tak pernah datang lagi. Jawabku. Apakah kau tidak diundang? Kau tak mendebat. Mungkin kau terlalu sibuk? Atau kau datang ke pesta yang lain?
Pesta yang lain. Kau sebutkan beberapa menu. Wow, aku menahan air liur. Kau sebutkan beberapa nama. Oh, aku minder. Tapi kau menepis tangan. Itu semua palsu. Katamu. Buktinya kau tetap kering dan makin gersang.

Kau menyebutkan lagi beberapa kata sandang. Lingkungan baru-mu beberapa tahun belakangan ini. Oooh, aku melongo. Mereka semua terdengar seolah mmmm… golongan yang kau tidak sukai, tapi tak bisa kau hindari. Apakah mereka sungguh kaya? Dengan lugu aku bertanya. Kau menggeleng. Sangat miskin, sebenarnya, jawabmu. Ssst, tapi sok kaya!

Aku terhenyak. Lalu? Ya ya, aku mencoba memahami. Banyak orang merasa ingin terlihat kaya walau sebenarnya mereka tak benar-benar memiliki. Aku tak mengerti, tapi kau tetap menjelaskan. Mereka ini, memiliki sesuatu yang tidak riil, kau bilang. Apa pula itu? Harta mereka bersifat maya? Aku terdengar makin bodoh.

You’re dam rite! Kau berseru. Maksudmu? Aku bertanya lagi. Apa iya ada kekayaan yang maya? Maksudmu virtual, atau seperti main saham? Tanyaku. Kau menggeleng. Matamu kelam. Aku malu untuk jujur, katamu. Aku merasa sudah seperti mereka.

Gantian aku yang merasa kelam. Mungkinkah kau mengikuti cara hidup mereka? Sebab kulihat belakangan ini kau tampil semakin wah. Tidak, aku tak berani menuduhmu buruk. Kau adalah orang paling jujur dan tulus yang pernah kukenal. Tak salah jika kau bisa terlihat lebih menawan.

Aku letih, bisikmu. Aku merasa terlalu berkabut. Tidak apa-apa, jawabku. Kabut bisa dibersihkan dengan wiper. Kau menggeleng. Kau tunjukkan semua yang kau kenakan. Semuanya takkan mampu dibeli dengan gaji pegawai biasa. Aku tak betah, akuimu. Ah kau salah kali, sahutku. Kau terlihat nyaman dan makin keren dengan semua itu. Benar, jawabmu. Tapi ini adalah tampilan luar. Artificial. Lalu, kenapa kau mengenakannya walau kau tak betah?

Kau sebut lagi nama-nama itu. Aku menganga. Whaaaat??? Untuk apa kau harus ‘berjejer’ dengan mereka? Kau menggeleng. Aku tak suka mereka, tapi aku tak bisa memutuskan relasi dengan mereka. Jawabmu singkat.Aku mengerti. Banyak relasi dalam hidup ini yang tak kita inginkan tapi harus tetap kita jaga. Walau resikonya, banyak hal mesti kita korbankan. Dan kau menyesalinya.

Sesuatu yang dulu sangat kukagumi padamu adalah kesederhanaanmu. Banyak orang tampil lebih dari yang seharusnya. Kelasnya mestinya hanya level C, tapi penampilannya level A. Banyak orang ingin terlihat hebat, butuh pujian dan pengakuan, walau semua itu artificial. Kau adalah kebalikannya. Kesederhanaanmu, yang bersahaja. Ibarat jika kau punya pesawat, kau tetap mau naik becak. Tapi orang lebih suka terlihat seolah memiliki pesawat walaupun hanya punya becak dan becaknya pun hanya pinjaman. Kau tidak seperti itu. Dan itu adalah sesuatu yang kini mulai kau rindukan.
Kau rindu kembali pada jati dirimu yang sesungguhnya, yang apa adanya. Terlalu banyak topeng sungguh membuat hidup ini terasa berat bukan? Sebegitu beratnyakah berani menjadi diri sendiri?

Ah, kau sangat letih. Harus bagaimana menolongmu. Kau perlu bantuan. Emergency.
Wiper. Kau butuh wiper. Sebagai kado natal. Wiper bagi jiwa. Kemana kau harus mencarinya? Aku tersenyum. Merasakan hal yang sama. Aku juga butuh wiper. Mungkin yang lebih besar, kuat dan tebal. Who knows masalah kita lebih besar daripada orang lain? Kemana lagi kita harus mencari wiper? Mesin pembersih kalbu dari segala kabut galau? Kepada siapa kita harus tetap teguh menegakkan visi? Kepada siapa lagi? Adakah duanya?

Dan kau. Kau. Kau juga. Apa yang kau perlukan di natal ini? Kado apa yang kau inginkan?

(…Hanya karena kasihNya..hanya karena kehendakNya..kita masih bertemu matahari…...yang terbaik hanyalah segeralah bersyukur..mumpung kita masih diberi waktu…#EbietGAde)
Semoga natalmu cerah, bersih dari segala kabut, hingga visimu tetap jelas, menuju tahun yang baru …

Itu doaku. Untukmu. Untukku juga.

=18dec11=

No comments:

Post a Comment